Haikal Hassan Meledak! Ungkap yang Sebenarnya Terjadi Saat Prabowo Dihujat, Ini Kata Kepala BPJPH

Jakarta – Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hassan, angkat suara setelah muncul kritik dan hinaan terhadap Presiden Prabowo Subianto. Dalam sebuah pernyataan yang cukup emosional, Haikal mengecam pihak-pihak yang menurutnya tidak menghargai sosok Prabowo dan malah mencurahkan kebencian melalui hinaan dan makian di ruang publik.

Pernyataan ini disampaikannya saat retret kedua di Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Haikal menyinggung momen ketika Prabowo mengutip ayat Al-Qur’an mengenai bahaya fitnah, dan dia menegaskan bahwa apa yang terjadi selama ini jauh dari semangat menghormati pemimpin negara.

Prabowo dan Ayat Al-Qur’an soal Fitnah

Haikal menceritakan secara rinci bagaimana Prabowo dalam acara tersebut mengutip ayat Al-Qur’an “Al-fitnatu asyaddu minal-qatl” yang memiliki makna bahwa fitnah dan fitnah sosial bisa lebih kejam daripada pembunuhan. Menurut Haikal, kutipan ini disampaikan Prabowo lebih dari satu kali sebagai pesan kuat bagi para peserta retret.

“Beliau menyampaikan bahwa fitnah itu sangat berbahaya dan bisa menghancurkan bangsa,” ujar Haikal dalam klip video yang beredar. Haikal mengatakan, Prabowo datang bukan hanya sebagai pemimpin negara tetapi juga menekankan pentingnya etika dan moral dalam kehidupan berbangsa.

Emosi Haikal Meluap: “Apa Tidak Bangga?”

Dalam retrospeksi kejadian itu, Haikal tak bisa menyembunyikan rasa frustasinya. Ia menyinggung bagaimana Prabowo tidak hanya berbicara soal pemerintahan, tetapi juga mengingatkan bawahannya untuk menjalankan kewajiban agama seperti salat magrib.

“Dan ketika masuk lagi setelah magrib, beliau masih mengingatkan, siapa yang belum salat magrib… Apa tidak bangga punya Presiden seperti itu? Kenapa terus saja dihina, terus saja dimaki?” kata Haikal dengan nada emosional, sambil meminta para pendengar memahami apa yang ia sampaikan.

Pernyataan Haikal ini menunjukkan betapa dalamnya ia merasakan bahwa sikap menghina dan mencaci tidak seharusnya muncul kepada pemimpin yang memainkan peran penting dalam pemerintahan.

Kritik Terhadap “Elite yang Hanya di Media Sosial”

Dalam pernyataan serupa sebelumnya, Prabowo sendiri pernah mengkritik sebagian figur elite yang menurutnya lebih pandai mencaci dan menghujat lewat media sosial daripada bekerja nyata. Ia mengaku heran dengan perilaku tokoh-tokoh yang menurutnya tidak menunjukkan apresiasi terhadap prestasi bangsa.

“Ada elite kita sebagian yang kerjanya hanya ngejek, hujat, fitnah, nyinyir… malah selalu ngenyek,” kata Prabowo dalam sebuah acara publik, mempertanyakan sikap elit yang menurutnya justru tidak mendukung pemerintah.

Pernyataan Prabowo ini kemudian dikutip Haikal sebagai salah satu alasan mengapa hinaan terhadap pemimpin tidak hanya merugikan secara moral tetapi juga memperburuk politik kebangsaan.

Siapa Haikal Hassan dan Perannya di Pemerintahan?

Haikal Hassan dikenal publik sebagai tokoh yang cukup kontroversial sepanjang kariernya. Sebelum menjabat sebagai Kepala BPJPH, ia pernah aktif di berbagai organisasi dan kerap menjadi pembicara di acara-acara publik yang memicu perdebatan.

Sebagai Kepala BPJPH, Haikal sekarang memegang peran penting dalam pengawasan dan pengembangan sertifikasi halal di Indonesia. Badan ini memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan produk-produk yang beredar di pasar memenuhi standar halal, dan peran Haikal menjadi sorotan karena keterlibatannya yang langsung dengan kebijakan publik.

Sebelumnya, Haikal juga sempat menuai kritik ketika dirinya sendiri pernah menyatakan sikap yang berbeda terhadap beberapa isu politik dan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa figur Haikal sering berada di tengah dinamika opini publik, baik sebagai tokoh agama maupun pejabat pemerintahan.

Reaksi Publik dan Kontroversi

Pernyataan Haikal yang emosional ini memicu beragam respon dari masyarakat. Sebagian pihak memuji keberaniannya untuk menyuarakan pendapat secara terbuka tentang hinaan kepada pemimpin. Sementara pihak lainnya menilai kritikan Haikal terlalu kuat dan justru memperuncing polarisasi dalam diskursus publik.

Tak hanya terkait hinaan terhadap Prabowo, persoalan sikap Haikal di masa lalu, termasuk tuduhan-tuduhan terhadapnya, tetap menjadi bagian dari percakapan publik yang terus berkembang.

Seiring dengan pernyataannya yang viral, diskursus soal etika politik, perlakuan terhadap pemimpin negara, dan batas kebebasan berpendapat kembali menjadi topik hangat di ruang publik Indonesia.